Cari
English Version

DETAIL ARTIKEL
 

MISTERI ZONA KECERDASAN
oleh : Redaksi [ 2006-03-24 04:45:03 ]

"Use it or lose it!" (Gunakan atau ia akan hilang!) Demikianlah sebuah frasa yang dulu sempat dipopulerkan oleh aktris gaek Tallulah Bankhead. Sangat jelas, yang dimaksud di situ adalah otak atau nalar. Setiap mahluk hidup pastilah memiliki otak. Ia adalah organ tubuh yang keberadaannya ibarat kemudi, sehingga amat vital dan dibutuhkan peran dan fungsinya. Dengan kecerdasan otak, manusia diciptakan Tuhan untuk mampu mengatur diri, lingkungan dan dunianya. Manusia bisa berperan mulia laksana malaikat namun juga bisa terdampar nista seperti layaknya binatang. Semua itu terjadi, sekali lagi, berkat bantuan dan peran otak. Oleh karena itu, tak disangsikan lagi, otak adalah senjata dan perbekalan yang demikian berharga yang dimiliki manusia. Maka sudah sepantasnya apabila manusia menyukuri karunia Tuhan tersebut dengan cara mempergunakannya dengan benar dan seoptimal mungkin. Laksana belati, otak adalah peranti tubuh yang statis dan pasif. Ia hanya akan tajam dan aktif apabila digunakan dan diasah sebaik mungkin. Sebaliknya bila ia hanya dibiarkan telantar tanpa perawatan dan latihan yang memadai, ia pun lama-lama akan lumutan dan berkarat. Asumsi dasar inilah yang menjadi titik tolaj dari inisiatif David Gamon dan Alle Bragdon dalam menyusun buku panduan yang atraktif ini. Kedua peneliti kondang tersebut bahu-membahu merancang buku swabantu ini guna memberikan gambaran dan penjelasan teoritis serta pelatihan simultan bagi kinerja kecerdasan otak. Fungsi dan vitalitas otak niscaya akan mandul dan bergerak mundur disebabkan oleh tiga hal, yakni sikap tak mau tahu (apatis), kemalasan, serta faktor usia. Pada dimensi itulah buku ini setidaknya hendak menggugah kita untuk bersemangat dan sadar diri guna mengatasi sikap malas dan apatis yang kerap muncul mengganggu kehidupan manusia. Boleh dikata, inilah salah satu usaha preventif sebelum kelak kodrat alam bernama "usia dan kematian" datang menjemput kita. Enam Zona Gamon dan Bragdon melahirkan penemuan baru ihwal bersemayamnya enam zona kecerdasan dalam otak. Zona-zona tersebut antara lain wilayah eksekutif-sosial, emosi, bahasa, spasial, ingatan serta matematika. Hasil temuan itulah yang selanjutnya dijadikan acuan praktis dalam pemilahan pokok bahasan buku sarat contoh ini. Pertama, eksekutif-sosial. Pada zona ini kita dapat bercegkerama dengan beragam teori ringan berikut serangkaian data, contoh dan Penjelasan yang mengasyikan. Diuraikan disini bagaimana kaitan antara DHEA, sebuah hormon yang dihasilkan oleh adrenalin dan primata bisa membuat manusia merasa muda kembali, kita juga diajak mengetahui struktur fisik otak, ragam temperamen dan pola kesadaran manusia, hingga pada kiat membaca karakter orang lewat permainan ekspresi air muka. Kedua, ingatan. Di ranah ini diulas perihal sejumlah latihan untuk menguatkan ingatan (memori), pengaruh usia, dampak dan resiko menopause, hingga ragam cara memerangi alzheimer (penyakit kepikunan). Yang cukup menarik, penulis menyebut bahwa zat nikotin yang terdapat dalam rokok ternyata bisa membantu menangkal seseorang dari serangan alzheimer. Ketiga, emosi. Pengendalian emosi merupakan inti pembahasan dari bagian ini. Dengan pola-polanya yang asyik penulis menjelaskan ihwal emosi manusia, mulai dari pemetaan tentang ilusi, komunikasi verbal dan nonverbal sampai pada penanggulangan stress dan depresi yang lazim menimpa manusia di era modern saat ini. Temuan unik dalam hal ini adalah bahwa tertawa adalah sarana hidup murah dan menyehatkan seseorang. Oleh karenanya, ceriakanlah selalu hati anda menghadapi segala problema hidup. Bahkan jika perlu, "Tontonlah film-film Mr. Bean!". Begitulah anjuran konklusif dari penulis. Keempat, bahasa. Faktor bahasa merupakan elemen penting dari dinamika otak manusia sepanjang hayat. Karunia sepasang otak kanan dan otak kiri yang diberikan pada manusia memungkinkannya untuk mengolah kecerdasan semenjak ia masih bayi hingga usia lanjut. Pendidikan--dalam segala aspeknya--menurut konsep ini adalah hal yang tak bisa ditawar keberadaannya. Kelima, matematika. Sulit disangkal, manusia merupakan mahluk berhitung. Dari kemampuan matematika mereka akhirnya bisa diteliti dan ditemukan teori kecerdasan yang memungkinkan seseorang untuk dicap "genius", "standar", ataukah "idiot". Di sini kita juga disuguhi sejumlah trik bagaimana Albert Eistein mampu menjinakkan otaknya lewat bergaul dengan matematika. Keenam, spasial. Aspek ini menelisij dan membuktikan bagaimana kinerja otak berhubungan erat dengan gen dan kemampuan visual seseorang. Orang yang mampu melihat dan mampu memanfaatkan potensi penglihatannya, jelas akan berbeda kinerja dan kadar fungsional otaknya dibanding mereka yang tak mampu melihat (buta). Alhasil, buku ini menggugah kesadaran kita untuk melejitkan potensi otak melalui pelatihan yang benar dan simultan pada enam titik yang menjadi zona kecerdasan manusia di atas. Ditopang dengan aneka contoh, data, lembar latihan, beragam permainan dan anekdot yang ringan, mudah dan menghibur, buku ini amat cocok dijadikan sebagai pustaka panduan bagi pemerhati psikologi, pendidik, keluarga yang peduli perkembangan intelektual anak, serta siapa saja yang masih menginginkan otak dan fikirannya aktif, terjaga dan bertenaga. Misteri zona kecerdasan Penulis: M. Ali Hisyam