Cari
English Version

DETAIL ARTIKEL
 

MEMBANGUN MOTIVASI ANAK
oleh : Redaksi [ 2009-03-17 04:12:02 ]

Apa yang dihasilkan oleh kuatnya motivasi? Level energi. Motivasi yang besar menaikkan level energi dan aktivitas. Orang-orang yang sangat bersemangat setiap kali melakukan aktivitas, dan seperti tak ada lelahnya sehingga sanggup melakukan kegiatan yang melebihi kesanggupan manusia secara umum, biasanya bisa dilacak akar motivasinya yang besar dan keyakinannya yang kuat.


Mereka memiliki energi yang sangat besar karena keyakinannya menggerakkan dia untuk berbuat. Keyakinan yang kuat menjadi motivator, dan motivasi meningkatkan level energinya. Artinya, sekadar memiliki badan yang kuat tidak membuat seseorang kuat bekerja untuk keyakinannya dan idealismenya.


Bukankah Jenderal Soedirman lemah badannya, sakit-sakitan tubuhnya? Bukankah Syaikh Ahmad Yassin lumpuh badannya? Tetapi dari orang-orang yang sakit badannya itulah ribuan manusia bergerak. Bukan karena mereka memancing rasa iba, tetapi motivasi mereka yang sangat kuat mampu melampaui kelemahan tubuhnya. Mereka tetap memiliki energi untuk bertindak dan mampu menggerakkan jiwa manusia, meski badannya susah bergerak.


Nah, jika anak-anak kita memiliki motivasi yang kuat, mereka akan memiliki energi yang besar untuk belajar. Mereka tergerak untuk berusaha dengan sungguh-sungguh melakukan apa yang menurutnya baik. Semakin kuat motivasinya, semakin kuat usahanya.


Motivasi juga berpengaruh pada perhatian. Semakin besar perhatian, akan semakin efektif anak belajar. Perhatian juga meningkatkan daya ingat anak. Apa yang terjadi pada Imam Syafi'i, jika kita mengingat kembali sejarah hidupnya di masa kecil, erat kaitannya dengan motivasi yang kuat saat belajar. Motivasi itulah yang meningkatkan perhatian

 

Imam Syafi'i kecil sehingga daya ingatnya sangat besar.
Motivasi yang kuat juga mempengaruhi tingkat ketekunan anak saat mempelajari sesuatu. Jika motivasinya bersifat intrinsik, anak akan memperoleh penguat yang semakin menyalakan semangatnya setiap kali melakukan kegiatan.
Alhasil, motivasi yang kuat menjadikan belajar terasa mengasyikkan, meskipun kelihatannya tidak menyenangkan. Anak merasa asyik karena menikmati betul belajarnya, bukan karena ada kegiatan yang menyenangkan saat belajar. Anak menemukan kesenangan saat belajar karena kegiatan itu bermakna baginya. Sementara perhatian dan makna merapakan dua hal yang menguatkan ingatan. Ini berarti, keseriusan membangun motivasi anak sama dengan menyiapkan landasan.
Nah, pembicaraan tentang fikih mulainya dari wudhu. Sedangkan pembicaraan tentang iman mulainya dari niat. Jika Anda membuka Arba'in Nawawiyah, hadits pertama juga tentang niat. Sesungguhnya niat bukanlah apa yang kita ucapkan dengan lisan dan dikatakan dalam hati, tetapi apa yang menggerakkan kita untuk bertindak.

Kapan Memulainya?


Secara sederhana, usia 2-4 tahun adalah masa untuk membangun harga diri (self esteem) anak agar memiliki citra diri, penerimaan diri, dan percaya diri yang tinggi. Pada rentang usia ini orangtua maupun guru di kelompokbermain (KB) bertugas menciptakan perasaan positif terhadap kegiatan belajar.
Harga diri yang tinggi cenderung membangkitkan motivasi intrinsik dalam diri anak, sehingga membuatnya bersemangat belajar. Rasa ingin tahunya berkembang dan perasaan positifnya terhadap belajar tumbuh dengan baik.


Pada rentang usia berikutnya, 4-6 tahun, orangtua dan guru masih bertugas membangun harga diri anak agar lebih kokoh lagi serta menguatkan perasaan positifnya terhadap belajar. Tugas ini perlu diperhatikan sungguh-sungguh sampai anak usia delapan tahun. Bedanya, pada rentang usia 4-6 tahun, orangtua perlu memberi pengalaman yang jauh lebih kaya agar minat anak berkembang. Selama rentang waktu ini, betapa pun kita melihat aspek kecerdasan yang menonjol dalam diri anak, orangtua maupun guru di TK tidak diperkenankan untuk hanya memperhatikan bakat atau sisi kecerdasan yang menonjol. Pada masa ini, tugas orangtua adalah mengembangkan minat anak.
Selama periode 4-6 tahun, orangtua maupun guru TK bisa membangun perasaan positif dan ideal tentang tokoh atau kegiatan yang mulia. Dari ini, kita bisa berharap minat, motivasi, dan sikap anak akan terbentuk.


Berikutnya, pada periode usia 6-8 tahun, orangtua dan guru perlu membangun sense of competence -kesadaran tentang kompetensi— pada diri anak. Pada saat yang sama, orangtua sudah bisa menanamkan pada diri mereka motivasi yang bersifat ideal karena digerakkan oleh keyakinannya pada agama. Ini perlu dilakukan secara terencana, sehingga pada usia delapan tahun -selambatnya sembilan tahun— kita bisa berharap anak-anak itu menjadi pembelajar mandiri karena budaya belajarnya telah terbentuk dan sekaligus memotivasi kuat. Tugas guru -juga orangtua— pada rentang usia berikutnyalah untuk memperkuat dan menjaganya. Wallahu a'lam bish-shawab.

(Sumber artikel : Muhammad fauzil Adhim ).