Cari
English Version

DETAIL ARTIKEL
 

“MENGAPA ANAK MENGALAMI UNDER ACHIEVER”
oleh : Redaksi [ 2008-10-17 00:49:39 ]

Sangat sedikit anak yang menunjukkan prestasi yang sama persis dengan kapasitasnya. Pada kenyataannya, kesenjangan antara prestasi dan potensi itu selalu ada. Penelitian menjukkan bahwa 15-40% anak mengalami gejala underachiever, anak laki-laki lebih banyak dibanding anak perempuan. Gejala underachiever (anak yang berprestasi di bawah kapasitasnya) muncul terutama ketika anak mulai mendekati usia 6 tahun, ketika ia mulai bersaing dengan saudara atau teman-temannya.

PENYEBAB
Menurut Sylvia Rimm dalam bukunya Why Bright Kids Get Poor Grades and What Can You Do About it, ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya underachiever pada anak, yaitu:

1. Perilaku orangtua yang tidak disukai anak.

Orangtua menuntut terlalu tinggi atau perfectionist.
Anak bisa kurang motivasi untuk menyelesaikan tugasnya sebagai cara untuk membalas dendam pada orangtuanya, yang dirasakan terlalu otoriter, kaku, bersikap tidak adil dan sok kuasa. Kalu orangtua terlalu menuntut kesempurnaan, anak bisa menyerah sebelum mencoba mengerjakan tugas-tugasnya atau berpura-pura mengerjakannya. Waspadai sikap anda, karena sikap perfeksionis tidak selalu dalam bentuk ucapan. Anak yang peka bisa menangkap isyarat, misalnya dari ekspresi wajah orangtua yang kecewa atau kurang puas ketika ia gagal menjadi juara kelas.

2. Orangtua menuntut terlalu meremehkan

Anak belajar dari sikap orangtua yang meremehkan atau meragukan kemampuannya, sehingga ia pun meragukan kemampuannya sendiri untuk berprestasi dan untuk bersikap mandiri.

3. Orangtua kurang perhatian

Orangtua yang kelewat sibuk dengan kegiatannya sendiri, sehingga tak sempat memperhatikan prestasi dan usaha anaknya. Hal ini akan meninggalkan kesan kepada anak bahwa belajar bukanlah aktivitas yang penting. Demikian pula orangtua yang hanya pedulu pada prestasi atau hasil tetapi tidak peduli pada proses atau usaha pencapaian prestasi tersebut.

4. Orangtua bersikap terlalu permisif

Sebagian orangtua memilih bersikap permisif (serba membolehkan) karena mengira dengan demikian anak akan tumbuh mandiri. Kenyataannya, anak yang sehari-hari tidak mengenal disiplin di rumah dan disiplin dalam belajar akan cenderung merasa tidak aman dan kuarang motivasi untuk mencapai prestasi. Anak tidak belajar mrndisiplinkan diri sendiri untuk memenuhi harapan orang lain, atau untuk mencapai target. Ia juga tidak belajar bagaimana bekerja keras dan bertahan dalam situasi yang menekan.

5. Konflik keluarga yang serius

Suasana rumah yang terus menerus kalut akan membuat anak merasa tidak aman. Kehilangan rasa aman ini membuat anak kehilangan minat terhadap aktifitas sekolah dan berprestasi. Tugas sekolah menjadi nomor dua setelah konflik orangtua. Kebutuhan yang mendesak dalam dirinya adalah lari dari situasi yang menegangkan, dan itu bisa dicapainya dengan cara melamun, menggunakan obat-obat terlarang, atau perbuatan-perbuatan yang menyimpang lainnya. Karena orangtua bagi anak hanya merupakan sumber ketegangan dalam dirinya, anak juga kehilangan motivasi untuk menyenangkan hati orangtuanya.

6. Orang tua yang tidak menerima anak atau sering mengkritik

Anak yang merasa kehadirannya tidak diharapkan, terutama oleh orangtuanya akan merasa dirinya tak berdaya, tidak mampu atau geram. Dengan prestasi buruk di sekolah atau tak oeduli pada tugas-tugas sekolah merupakan upaya anak untuk membalas dendam kepada orangtua. Kritik yang terlalu sering atau terlampau keras mempunyai dampak yang serupa. Anak yang sering mendapat kritik atau cela lama kelamaan merasa bahwa kehadirannya tidak diharapkan oleh orangtuanya.

7. Orangtua terlalu melindungi (overprotective)

Orangtua dengan berbagai alasan bersikap terlalu melindungi anak. Alasan yang klise adalah mengkhawatirkan keselamatan anak dan menginginkan anak mendapat yang terbaik. Orangtua yang merasa bersalah karena tidak terlalu mengharapkan kehadiran anaknya juga dapat bersikap overprotective. Anak yang terlalu dilindungi tidak sempat belajar bagaimana memotivasi diri sendiri bila bekerja di bawah situasi yang menekan. Mereka tidak tumbuh matang dan tidak punya motivasi belajar.

8. Anak merasa rendah diri

Perasaan tidak berharga akan menurunkan motivasi anak. Anak merasa tidak berdaya berhadapan dengan lingkungannya. Ia merasa tidak berharga, tidak bisa belajar apa-apa bahakan tidak berani menginginkan sesuatu. Ia hanya berani menginginkan target di bawah potensi sesungguhnya yang ia miliki. Ia juga takut ketahuan bahwa ia tidak mampu atau tak berguna. Maka ia lebih suka menarik diri daripada menempuh risiko gagal dalam mencoba kemampuannya. Mungkin saja ia tampil sebagai anak manis yang patuh dan cenderung pasif.

Konflik nilai juga bisa membuat anak rendah diri, misalnya anak yang kreatif, eksentrik, easygoing, alih-alih merasa dirinya unik, bisa-bisa merasa bersalah dan tidak berguna dihadapan orangtuanya yang rapi, konservatif dan hanya menghargai prestasi akademik. Akhirnya anak menyalahkan dirinya sendiri lalu mencari teman di luar rumah dan mencari kepuasan dari aktifitas yang justeru tidak diharapkan orangtuanya.

PENCEGAHAN

Untuk mencegah anak menjadi underachiever, beberapa upaya bisa dilakukan, yaitu:

Terima anak apa adanya dan beri suport
Sejak dini, anak perlu sering-sering ditanggapi keluhannya, misalnya ketika ia meragukan kemampuannya, anda bisa mengatakan: "Insya Allah kamu bisa". Tekankan bahwa yang paling penting adalah berusaha semaksimal mungkin, gagal itu merupakan hal yang bukan tidak diperbolehkan tetapi pantang untuk berputus asa.

Anda juga perlu bersikap konsisten
Jangan menuntut anak di luar kemampuannya. Apapun prestasi anak, orangtua harus percaya kepada anak (bahwa ia mampu dan telah berusaha maksimal), menghargainya (bahwa ia telah berusaha, terlepas ia berhasil atau gagal, kehadiran anak tetap merupakan karunia bagi orangtua), dan mendengarkan apa yang disuarakan anak. Jangan sekali-kali berkata kasar atau melecehkan.

Target yang realistik
Tetapkanlah target yang menurut perkiraan anda sesuai dengan anak. Jangan terlalu berlebihan berharap anak akan cepat mengatasi masalahnya. Semua itu harus melalui suatu proses.

Kuasai seni menuntut
Perhatikan kesiapan anak untuk mengerjakan tugas baru, sehingga dimungkinkan mereka dapat berprestasi optimal. Tugas yang terlalu mudah tidak akan menantang anak untuk menunjukkan kemampuannya. Sebaliknya kegagalan yang terus menerus (karena target terlalu tinggi) akan membunuh motivasi anak untuk berprestasi. Menetapkan target yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah merupakan seni tersendiri.

Belajar menunda kepuasan jangka pendek
Setelah anak berusia 5 tahun, ia mulai bisa mengenal target jangka panjang dan jangka pendek; serta mengenal kepuasan jangka panjang dan jangka pendek. Ajari dan dorong anak untuk menunda kepuasa-kepuasan jangka pendeknya demi mendapatkan kepuasan jangka panjang atau kepuasan yang lebih besar. Misalnya, "Yuk, kita menghapal Al-Qur’an ayat demi ayat, lalu
surat demi surat, kalo sudah hapal beberapa surat pendek sholatmu bisa lebih khusyu’."

Ajari dan beri contoh untuk belajar aktif memecahkan masalah
Ajari anak bahwa rasa ingin tahu itu menggairahkan, mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya itu mengasyikkan, sehingga belajar itu kegiatan yang menyenangkan. Lontarkan saja pertenyaan pada diri sendiri, dan biarkan anak ikut mendengarkan dan terangsang rasa ingin tahunya, mengapa dan bagaimana cara kerja sesuatu (yoyo yang sedang dimainkan anak, juicer di dapur, hujan turun dari langit dsb).

Biasakan secara bersama mencari jawaban dari buku. Jadi secara tidak langsung anak mendapatkan bekal bagaimana caranya belajar aktif dan menyenangi kegiatan belajar. Motivasi belajar akan bangkit dan terpelihara dalam dirinya karena anak merasakan sendiri manfaatnya.

Beri ‘imbalan’ bila anak menunjukkan prestasi besar
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa prestasi akademik dan kepribadian yang positif (misalnya konsep diri yang positif, merasa berfungsi secara efektif) terkait erat dengan kondisi rumah. Anak yang selalu dihargai karena prestasinya umumnya akan lebih termotivasi untuk berprestasi. Anak underachever biasanya kurang memiliki tanggungjawab atas dirinya sendiri, termasuk prestasinya. Sistem imbalan akan membantu membangkitkan rasa tanggung jawab ini. Tugas orangtua adalah menemukan imbalan apa yang efektif bagi anak.
Ada yang senang dengan pujian tetapi ada yang pada awalnya memerlukan imbalan yang lebih konkret, misalnya tambahan pensil baru, meja belajar baru atau sekedar ciuman di pipi.

Apabila anak sudah terlanjur underachiever, ada dua hal yang perlu dilakukan, yaitu:

Pertama, gunakan sistem imbalan yang efektif. Efektifitas ini tergantung akurasi informasi prestasi anak di kelas. Karena itu orangtua harus sesering mungkin berkonsultasi dengan guru,
Kedua, ajari anak strategi untuk membangkitkan motivasi. Selain imbalan yang diterimanya, ajari anak untuk mencari imbalan kepada dirinya sendiri. Misalnya setelah mengerjakan PR ia boleh main komputer atau naik sepeda.

Mengingat gangguan underachiever ini akan sangat mempengaruhi perkembangan anak, sebaiknya kita sesegera mungkin mengatasinya. Mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Karena itu, kenalilah putera-puteri kita sebaik mungkin dan bergaullah sedekat mungkin. Bukan tak mungkin, karena didera kesibukan, tahu-tahu kita telah mendapatkan mereka sudah beranjak dewasa dan kita menyesal karena kehilangan masa-masa emas bersama mereka. Menyesal kemudian tentu tidak berguna.

Allahu’alam bishshawwab

Sumber: Sabili No.8, 1998.