Cari
English Version

DETAIL ARTIKEL
 

MENGENALI SIKAP MEMBANGKANG DAN BERTINGKAH LAKU KASAR ANAK
oleh : Redaksi [ 2008-09-15 04:39:25 ]

Membangkang tidak sama dengan anak yang melakukan kekasaran atau bersikap kasar. Membangkang, anak hanya menolak setiap apa yang diperintah atau disuruh orang tua atau orang yang lebih besar. Dalam hal ini, anak tidak melawan ataupun berbuat sesuatu yang menentang atau menyerang. Sikapnya hanya sekedar menolak untuk sesaat yang nantinya ia akan melakukan perintah itu.
Penolakan terjadi karena anak sedang asyik melakukan sesuatu yang disukai, seperti sedang asyik bermain, sedang asyik nonton TV, sedang asyik belajar, atau keasyikan lainnya. Atau bisa jadi karena ada sesuatu yang belum terselesaikan dengan orangtuanya. Keasyikan atau kesenangannya ini yang menyebabkan ia menolak perintah atau suruhan orang tua atau orang yang lebih besar.
Sikap ini akan menjadi tingkah laku kasar bila sikap membangkang anak diter-jemahkan, dipersepsi atau diartikan oleh orang tua sebagai anak yang “tidak mau menurut”, “tidak sopan” atau “tidak patuh”. Karena dengan itu orang tua mulai meng-adakan penekanan dengan kalimat “harus” atau memaksakan anak untuk melakukan perintah itu, agar jangan menjadi kebiasaan atau keterusan.
Dengan paksaan dan penekanan ini, anak mulai mengadakan defensive (perta-hanan diri) dari segala sesuatu yang datangnya dari luar, atau ia akan menyerang orang tua lebih dahulu sebelum sikap orang tua yang menekan dan memaksa tersebut tiba dalam kehidupannya. Sebelum terjadinya defensive ini, anak berusaha menerima dengan sifat kecurigaan terhadap segala perintah, ajakan yang tidak menyenangkan dan yang tidak disukainya.
Adanya kesempatan untuk melakukan tindakan kasar dan ketidaksopanan ter-hadap orang tua maupun pada orang di sekitarnya. Sikap kasar yang membuat orang lain merasa tidak nyaman atau merasa terganggu akan dijauhi orang lain, baik kita sebagai orang tua maupun orang di sekitar lingkungan rumah.
Seorang anak yang dibiarkan berperilaku kasar di rumah, tidak disangsikan lagi akan bersikap yang sama di luar rumah. Akibatnya ia tidak dihargai oleh teman-temannya dan masyarakat di mana ia berada. Di rumah, si anak tidak dipedulikan oleh orang tua yang sudah angkat tangan dalam menghadapinya. Di sekolah, ia sebagai seorang anak yang menyulitkan sehingga dihindari, baik oleh teman-teman maupun orang dewasa.

Kiat Mengendalikan Anak Yang Sedang Membangkang

  1. Jika dipanggil diam saja, perhatikan anak sedang apa? Mulailah dengan yang menyenangkan anak saat muncul pembangkangan. Setelah dia beralih pandang dengan kita baru sampaikan apa yang kita inginkan.
  2. Usahakan untuk tidak memanggil atau melarang perbuatan anak dengan dua kali panggilan atau larangan, tunggu beberapa saat, jika tidak bisa, alihkan seperti point 1, kemudian sampaikan apa yang kita inginkan.
  3. Ciptakan suasana yang menyenangkan setiap kali bersama dengan anak, dengan penuh reaksi dan respon positif yang dilakukan anak.
  4. Tidak membicarakan kesalahan anak dengan berulang-ulang dalam suasana apapun.
  5. Memberikan respon dengan reaksi yang positif setiap kali bertemu dengan anak-anak, meskipun masih di dalam rumah, misalnya baru keluar dari kamar dan bertemu dengan anak, maka sapalah dengan respon yang menyenangkan.

Kiat Mengendalikan Anak Yang Bertingkah Laku Kasar (Kasarisme)

  1. Perhatikan perilaku kasarnya, apakah merusak dirinya, lingkungan atau kedua-nya, kemudian arahkan perhatian kita kepada satu tindakan yang akan kita lakukan.
  2. Lakukan tindakan yang telah kita arahkan, dengan nada yang tegas, tidak perlu menggunakan amarah dan pembahasan, cukup satu kalimat dan sampaikan dengan bahasa tubuh bahwa kita tidak suka perbuatan itu.
  3. Berikan konsekwensi atas perbuatannya tanpa ada negosiasi, kemudian kon-sisten terhadap konsekwensi perbuatannya. Untuk tidak melakukan perdebat-an, nasehat atau apa saja yang menyebabkan kebimbangan anak.
  4. Alihkan perhatikan pada masalah yang lain dan ciptakan suasana nyaman untuk masalah lain. Jika ia berusaha membahas masalah yang diambil tindakan, tetaplah dengan point 3.
    Karena stimulus (rangsangan) yang ada di lingkungan sekitar kita —baik dari media masa maupun elektronik, serta teman-teman sebaya, maupun dorongan keinginan orang tua untuk anak baik dan menjadi orang— sehingga kita lupa siapa anak kita. Perbedaan yang terjadi antara kita sebagai orang tua dan anak yang menerima keinginan tersebut, maka akan timbul suatu sikap yang menyebabkan saling menguasai, baik orang tua menguasai anaknya maupun anak menguasai orang tuanya.

Agar tidak terjadi fenomena tersebut diatas, maka kita pahami apa yang dinama-kan pembangkangan dan tingkah laku kasar, serta bagaimana mengendalikannya dengan kiat-kiat yang sangat sederhana ini. Rasanya tidak akan berhasil jika kita tidak benar-benar mempraktekkan bentuk pengendalian tingkah laku anak.
Bagi orang tua yang mempunyai anak-anak yang dalam perkembangannya berjalan dengan baik, usahakan untuk tetap bertahan. Dan bagi anak-anak mereka yang sudah terlanjur tercipta tindakan penolakan dan penentangan, berusahalah dengan pengendalian ini, semoga masa depan anak-anak menjadi harapan orang tua dan semuanya.
(Diambil dari artikel Abu Bakar Baradja, S.Psi)