Cari
English Version

DETAIL ARTIKEL
 

PENYAKIT TELINGA OTITIS MEDIA
oleh : Redaksi [ 2008-08-02 04:02:08 ]

Otitis media terbagi atas :

1. Otitis media supuratif

    a. Otitis media supuratif akut atau otitis media akut

    b. Otitis media supuratif kronik

2. Otitis media non supuratif atau otitis media serosa

    a. Otitis media serosa akut (barotrauma atau aerotitis)

    b. Otitis media serosa kronik (glue ear)

3. Otitis media spesifik, seperti otitis media sifilitika atau otitis media tuberkulosa.

4. Otitis media adhesiva

 

Pengertian

 

Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah.

 

Etiologi

 

Bakteri piogenik seperti Streptococcus hemolyticus, Staphylococcus aureus, Pneumokok, H. influenzae, E. coli, S. anhemolyticus, P. vulgaris dan P. aeruginosa.

 

Patofisiologi

 

Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. Faktor penyebab utama adalah sumbatan tuba Eustachius sehingga pencegahan invasi kuman terganggu. Pencetusnya adalah infeksi saluran napas atas. Penyakit ini mudah terjadi pada bayi karena tuba Eustachiusnya pendek, lebar dan letaknya agak horizontal.

 

Manifestasi Klinis

 

Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah :

 

1. Stadium oklusi tuba Eustachius

    Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam

    telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat

    dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi.

2. Stadium hiperemis (presupurasi)

    Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh

    membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk

    mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat.

3. Stadium supurasi

    Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada

    mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya

    eksudat purulen di kavum timpani.

    Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di telinga

    bertambah hebat.

    Apabila tekanan tidak berkurang, akan terjadi iskemia, tromboflebitis dan

    nekrosis mukosa serta submukosa. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang

    lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. Di tempat ini akan terjadi

    ruptur.

4. Stadium perforasi

    Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi,

    dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga

    tengah ke telinga luar. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang, suhu badan

    turun, dan dapat tidur nyenyak.

5. Stadium resolusi

    Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali.

    Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Bila daya

    tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa

    pengobatan. Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif

    subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau

    hilang timbul lebih dari 3 minggu. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK)

    bila berlangsung lebih 1,5 atau 2 bulan. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa

    otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi.

 

Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.

 

Pada orang dewasa, didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar.

 

Pada bayi dan anak kecil gejala khas otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39,5 derajat celsius), gelisah, sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, diare, kejang, dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani, suhu tubuh akan turun dan anak tertidur.

 

Komplikasi

 

Sebelum adanya antibiotik, otitis media akut (OMA) dapat menimbulkan komplikasi, mulai dari abses subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. Sekarang semua jenis komplikasi tersebut biasanya didapat pada OMSK.

 

Penatalaksanaan

 

Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik.

 

Stadium Oklusi

 

Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 1 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. Sumber infeksi lokal harus diobati. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman.

 

Stadium Presupurasi

 

Diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari.

 

Pada anak diberikan ampisilin 4 x 50-100 mg/kgbb, amoksisilin 4 x 40 mg/kgbb/hr, atau eritromisin 4 x 40 mg/kgbb/hr.

 

Stadium Supurasi

 

Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur.

 

Stadium Perforasi

 

Terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari.

 

Stadium Resolusi

 

Membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak, antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila tetap, mungkin telah terjadi mastoiditis.

 

Sumber :

 

Kapita Selekta Kedokteran. Editor Mansjoer Arif (et al.) Ed. III, cet. 2. Jakarta : Media Aesculapius. 1999.