Cari
English Version

DETAIL ARTIKEL
 

MEMBANGUN KETRAMPILAN BELAJAR ANAK USIA SD
oleh : Redaksi [ 2008-03-22 04:13:09 ]

Masa sekolah dasar merupakan masa sangat penting bagi anak-anak untuk mengembangkan dasar-dasar pola belajar yang sudah ditanamkan pada masa prasekolah. Beberapa langkah yang dapat dilakukan orangtua untuk membangun keterampilan belajar anak-anaknya antara lain:

Kembangkan kemampuan baca dan tulis.
Terus ciptakan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuan baca dan tulisnya. Di tengah ke sibukan anak dengan pelajaran sekolah dan kesibukan orangtua dengan pekerjaan, kebiasaan untuk berkunjung ke perpustakaan perlu terus dihidupkan. Banyak orangtua hanya bersemangat pada masa pra sekolah. Ketika anak sudah di sekolah dasar, kebiasaan baik ini justru ditinggalkan. Lebih baik anak mendapat nilai PR pas-pasan akan tetapi program ini tetap berlangsung. Jika anak terus dipaksa mengerjakan PR dan beban lainnya sehingga tidak sempat membaca dan menulis hal yang ia sukai, anak akan kehilangan sukacita belajar yang justru sangat penting bagi kehidupannya. Dorong semangat anak menulis dengan cara mengirimkan tulisan untuk majalan dinding sekolah atau majalan anak-anak, atau memperkenalkan dengan sahabat pena.

Bantu anak membangun pola belajar mandiri.
Pola belajar mandiri harus dimulai dengan menyusun jadwal belajar sendiri. Buatlah suatu papan jadwal dengan kartu-kartu kegiatan. Pada tahap awal, temani anak untuk menyusus rencana hariannya sehingga ia dapat memutuskan sendiri kapan mengerjakan kewajibannya dan kapan dia mempunyai waktu bersantai atau mengerjakan apa yang ia sukai. Dengan demikian, anak tidak merasa didikte. Anak juga akan belajar untuk mengerjakan apa yang disukai dan apa yang tidak disukai namun harus dikerjakan. Perlahan-lahan, latihlah anak untuk mendahulukan tugas yang sulit sehingga dia tidak perlu cemas dan tegang pada malam hari karena tugas belum selesai.

Ajarkan anak ketekuanan dan ketelitian.
Beberapa orangtua mengatakan bahwa sekolah umumnya hanya memberikan materi pelajaran, tetapi tidak mengajarkan cara belajar yang baik yang akan menumbuhkan ketekunan dan ketelitian. Anak harus dilatih untuk tekun yaitu dengan memberi kesempatan pada anak untuk menyelesaikan sendiri pekerjaan yang mampu dia lakukan. Perasaan puas dengan hasil pekerjaan sendiri merupakan suatu perasaan penting bagi anak untuk tumbuhnya ketekunan. Akan sulit bagi anak untuk menumbuhkan ketekunan jika dia merasa tugas-tugas yang dihadapi terlalu sulit untuk diselesaikan. Sebab itu, jika PR terlalu banyak atau sulit, orangtua harus membicarakan hal ini dengan pihak sekolah. Ketelitian juga dapat ditumbuhkan dengan cara meminta anak memeriksa sendiri apa yang sudah dikerjakannya. Untuk pertama kali, dapat dibuat suatu perjanjian misalnya: "Jika jawaban soal-soal kali ini dikerjakan tanpa salah, besok Mama yang periksa. Kalau ada kesalahan satu saja, kita periksa bersama-sama. Tetapi jika soal kali ini ada kesalahan lebih dari satu, besok kamu harus periksa sendiri, baru setelah itu Mama yang periksa." Setelah anak periksa sendiri masih ada kesalahan, orangtua jangan langsung menunjukkan kesalahan, tapi beri kesempatanan satu kali lagi untuk ia periksa sendiri.

Berikan fasilitas belajar yang dibutuhkan untuk mengerjakan PR-nya.
Seperti juga ketika kita masih kecil, anak-anak kadang membuat orangtua frustasi dengan mengatakan: "Pa, besok saya harus membawa kapas tiga gulung untuk proyek di sekolah." Dan dia mengatakannya pada pukul 12.00 malam ketika kita sudah memakai baju tidur.Mary Leonhardt menganjurkan agar situasi pada saat itu tidak dipakai untuk mengajar anak tentang tanggung jawab. Saat itu adalah saatnya menunjukkan kepada anak bahwa anda pun melihat pekerjaan rumahnya sangat penting, seperti yang ia rasakan. Tanpa perlu marah-marah gantilah baju dan carilah apotik 24 jam untuk mendapatkan kapas tersebut. Tanpa anda perlu katakan dengan nada marah, anak akan berkata dalam hatinya: "Lain kali aku akan lebih teliti mempersiapkan tugasku, sehingga Papa tidak perlu serepot ini." Jika anda tidak yakin anak menyadari hal itu, katakan esok harinya: "Papa akan lebih senang jika kamu memperhatikan tugas lebih awal, sehingga kita dapat mempersiapkan lebih baik."

Berikan hadiah dengan bijaksana.
Hadiah akan mengajarkan anak suatu nilai. Jika anda memberikan hadiah pada prestasi anak, maka dia akan belajar bahwa yang bernilai adalah prestasi. Tapi jika anda memberikan hadiah pada proses, maka dia akan belajar bahwa proses lebih bernilai daripada prestasi. Mary Leonhardt menganjurkan agar orangtua memberikan hadiah bukan pada prestasi tapi proses. Misalnya dengan mengatakan, "Kamu boleh main sepeda keliling rumah setelah mengulang pelajaran selama lima belas menit." Atau anda dapat memberikan pelukan dan pujian setelah anak memainkan lagu yang sulit di pianonya sebanyak tiga kali sekalipun pada kali yang ketiga masih banyak kesalahan. Pujilah untuk kemampuan dia bertahan lama dalam belajar lebih daripada ketika dia berhasil mendapatkan nilai sepuluh dalam ulangan. (bk).